Hijau atau Tenggelam: Pilihan Keras Indonesia Hadapi Krisis Lingkungan

Medan.Matalensa.co.id—Indonesia berada di titik kritis lingkungan hidup. Banjir yang terus berulang, menurunnya kualitas udara dan air, serta meningkatnya ancaman penyakit menjadi bukti bahwa kerusakan lingkungan telah berubah menjadi bisa persoalan nasional yang menyentuh keselamatan rakyat. Dalam situasi ini, gerakan lingkungan bersih dan hijau tidak lagi bisa ditunda maka ia menjadi harga mati bagi masa depan bangsa.
Kerusakan lingkungan akibat sampah yang tidak terkelola, alih fungsi lahan yang masif, serta minimnya ruang terbuka hijau telah melemahkan daya dukung alam. Sungai dan drainase kehilangan fungsi alaminya, sementara tanah tak lagi mampu menyerap air hujan. Akibatnya, banjir kini datang lebih cepat, lebih luas, dan lebih merusak dan bahkan saat hujan belum mencapai intensitas ekstrem.
Pakar lingkungan nasional pun Menegaskan, persoalan banjir di Indonesia hari ini bukan semata-mata soal curah hujan. “Banjir adalah akumulasi dari kegagalan mengelola lingkungan. Ketika sampah menutup sungai dan ruang hijau menghilang, alam akan membalas dengan bencana,” ujarnya para pakar lingkungan
Menurutnya, solusi paling efektif dan berkelanjutan adalah memulihkan fungsi lingkungan melalui kebersihan, penghijauan, dan penguatan kawasan resapan air.
Di berbagai wilayah, kawasan yang berhasil menjaga kebersihan dan memperluas ruang hijau terbukti lebih tangguh. Pepohonan dan area hijau berperan sebagai benteng alami yang menyerap air hujan, menurunkan suhu lingkungan, serta menghadirkan udara yang lebih sehat. Lingkungan seperti ini menciptakan rasa nyaman tidak hanya bagi manusia, tetapi juga bagi seluruh makhluk hidup yang bergantung pada keseimbangan ekosistem.
Namun para pemerhati menilai, upaya menjaga lingkungan tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial. Diperlukan aksi nyata dan konsisten yang dimulai dari reformasi sistem pengelolaan sampah, pemulihan sungai berbasis ekologi, hingga perencanaan kota dan desa yang ramah lingkungan. Kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat menjadi kunci agar gerakan ini berdampak nyata.
Lebih dari sekadar isu ekologis, krisis lingkungan kini beririsan langsung dengan kesehatan publik, stabilitas ekonomi, dan ketahanan nasional. Lingkungan yang rusak memperbesar risiko penyakit dan bencana, sementara lingkungan yang bersih dan hijau adalah investasi strategis untuk melindungi generasi hari ini dan masa depan Indonesia.
Indonesia tidak kekurangan aturan, tetapi membutuhkan komitmen kolektif. Jika gerakan bersih dan hijau dijadikan budaya nasional bukan sekadar slogan maka siklus banjir tahunan dan krisis lingkungan dapat diputus. Menjaga lingkungan berarti menjaga keselamatan bangsa.
( Red/Tim )

