“DOKTER TANPA TARIF: Prof. Aznan Lelo dan Pengabdian yang Tak Diukur dengan Uang”
Tak Ada Papan Nama, Tak Ada Tarif Tetap—Pasien Membayar Sesuai Kemampuan, Bahkan Boleh Gratis
Medan|Matalensa.co.id — Di tengah kehidupan yang sering kali menempatkan nilai sebuah profesi pada angka dan materi, masih ada sosok yang memilih jalan berbeda.
Ia adalah Prof. Dr. Aznan Lelo, Ph.D., Sp.FK, dokter spesialis farmakologi klinik sekaligus Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (USU) yang dikenal masyarakat dengan sapaan “Buya”.
Di kediamannya kawasan Jalan Puri, Medan, Buya menjalankan praktik pengobatan dengan cara yang sederhana. Tidak ada papan nama besar sebagaimana klinik pada umumnya. Yang ada adalah rumah sederhana yang setiap harinya didatangi masyarakat dari berbagai kalangan untuk mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan. Kisah praktik tanpa tarif tersebut telah diberitakan sejumlah media sejak bertahun-tahun lalu.
Yang membuat sosoknya begitu menarik bukan sekadar statusnya sebagai akademisi dan dokter spesialis.
Pasien diberikan kebebasan untuk memberikan biaya sesuai kemampuan dan keikhlasannya. Bahkan, bagi masyarakat yang benar-benar tidak memiliki uang, pengobatan tetap dapat diberikan tanpa pembayaran.
Rumah Sederhana, Pasien Datang dari Berbagai Kalangan
Praktik Buya berlangsung di kediamannya sendiri. Kesederhanaan tempat praktik tersebut justru tidak mengurangi kepercayaan masyarakat.
Berbagai kalangan datang untuk berobat, mulai dari masyarakat yang menggunakan becak dan sepeda motor hingga mereka yang datang dengan kendaraan pribadi. Sejumlah laporan media bahkan menyebut pasiennya berasal dari berbagai daerah di luar Medan.
Tidak ada kesan sebuah praktik yang mengejar kemewahan,yang terlihat justru antrean masyarakat yang datang karena membutuhkan pertolongan.
Bayar Seikhlasnya, Bahkan Tidak Bayar Pun Tak Masalah
Salah satu hal yang membuat praktik Buya berbeda adalah sistem pembayarannya.
Pasien tidak menerima tagihan dengan nominal tertentu setelah pemeriksaan. Mereka diberikan kesempatan untuk memberikan biaya sesuai kemampuan masing-masing.
Bahkan dalam sejumlah laporan mengenai praktiknya, pasien yang tidak mampu disebut dapat datang tanpa harus memikirkan apakah memiliki cukup uang untuk membayar jasa dokter.
Prinsip tersebut menjadikan Buya dikenal masyarakat sebagai dokter tanpa tarif atau dokter ikhlas.
Bukan karena profesinya tidak bernilai, melainkan karena ia memilih menempatkan kemanusiaan sebagai bagian penting dari pengabdiannya.
Ilmu Bukan Sekadar Untuk Mencari Penghasilan
Sebagai seorang akademisi dan dokter spesialis farmakologi klinik, Buya memiliki pengetahuan dan pengalaman yang tidak sedikit.
Namun, ilmu tersebut tidak semata-mata ia tempatkan sebagai sumber penghasilan.
Ia justru menjadikan keahliannya sebagai sarana untuk membantu masyarakat yang membutuhkan.
Dalam berbagai pemberitaan mengenai dirinya, prinsip pengobatan tanpa tarif tersebut dikaitkan dengan keyakinannya bahwa profesi dokter memiliki dimensi pengabdian dan kemanusiaan.
Bagi masyarakat yang datang, mungkin yang mereka cari pada awalnya hanya pemeriksaan dan obat.
Tetapi yang mereka temukan juga sebuah pelajaran tentang ketulusan.
Ketika Profesi Menjadi Jalan Pengabdian
Kisah Prof. Dr. Aznan Lelo menjadi menarik bukan karena ia seorang guru besar atau dokter spesialis.
Justru karena di tengah status akademik dan profesional yang dimilikinya, ia tetap memilih memberikan ruang bagi masyarakat yang mungkin tidak mampu membayar biaya pengobatan seperti pada umumnya.
Di sinilah makna sebuah profesi terlihat lebih luas.
Dokter bukan hanya tentang ilmu medis. Guru bukan hanya tentang ruang kelas. Dan seorang profesional bukan hanya tentang besarnya pendapatan.
Ada nilai pengabdian yang tidak selalu dapat dihitung dengan rupiah.
Pesan untuk Generasi Muda
Kisah Buya Aznan Lelo layak menjadi refleksi bagi generasi muda bahwa keberhasilan tidak selalu harus diukur dari seberapa banyak yang dapat dikumpulkan untuk diri sendiri.
Ada keberhasilan lain yang jauh lebih panjang umurnya:
ketika ilmu yang dimiliki mampu meringankan beban orang lain.
Apa yang dilakukan Buya menunjukkan bahwa keahlian, pendidikan dan jabatan akan memiliki makna yang lebih besar ketika digunakan untuk memberikan manfaat kepada masyarakat.
Di tengah zaman ketika hampir semua hal mudah dihitung dengan uang, kisah seorang dokter di Medan ini menghadirkan pertanyaan sederhana:
“Sudah sebesar apa manfaat yang kita berikan kepada orang lain dari ilmu yang kita miliki?”
Prof. Dr. Aznan Lelo mungkin hanya membuka praktik di sebuah rumah tanpa papan nama besar.
Namun dari tempat sederhana itu, sebuah pesan kemanusiaan justru terdengar begitu kuat:
Ilmu akan menjadi lebih mulia ketika digunakan untuk menolong sesama.
(Red/Karno)

