Sejarah Marga De Fretes dalam Suku Ambon Keturunan Bangsa Portugis

Sejarah Marga De Fretes dalam Suku Ambon Keturunan Bangsa Portugis
Bagikan :

Ambon.Matalensa.co.id.Sejarah panjang marga De Fretes merupakan bagian dari warisan budaya yang berasal dari kawasan Maluku.

Marga ini dikenal sebagai salah satu nama keluarga yang memiliki akar sejarah panjang dan erat kaitannya dengan pengaruh kolonial serta penyebaran agama Kristen di wilayah timur Indonesia.

Sejarah marga De Fretes, dimulai dari nama de Fretes sendiri memiliki akar Portugis dan menunjukkan pengaruh kuat bangsa Eropa, khususnya Portugis, yang datang ke Ambon sejak awal abad ke-16 untuk berdagang rempah-rempah.

Marga De Fretes merupakan salah satu marga yang cukup dikenal dalam masyarakat Ambon, Maluku, dan menjadi bagian dari sejarah asimilasi budaya di wilayah ini.

Kehadiran bangsa Eropa turut membawa masuk nama-nama keluarga baru, seperti De Fretes, Da Costa, Delima, De Queljo dan lain-lain, yang kemudian diadopsi oleh penduduk lokal dan berkembang sebagai bagian dari identitas masyarakat Ambon saat ini.

Salah satu cerita menyebutkan bahwa seorang tokoh bernama Johan dari Mahia, wilayah pegunungan Pulau Ambon, menikah dengan perempuan dari keturunan Malawau, lalu keturunannya melanjutkan garis marga De Fretes di negeri Aboru.

Di negeri Naku, marga De Fretes diketahui merupakan turunan dari Patti Trete, bersama dengan marga Piris. Kedua marga ini berdiam di Naku hingga sekarang dan pernah memiliki posisi penting dalam struktur masyarakat tersebut.

Hal serupa juga ditemukan dalam data adat negeri-negeri di Ambon, yang menyebutkan De Fretes sebagai salah satu nama fam atau marga yang diakui secara resmi.

Dalam praktik kehidupan sosial di Ambon, penyematan marga De Fretes memperlihatkan proses hibriditas budaya atau percampuran antara budaya lokal Maluku dengan pengaruh Eropa.

Nama ini tercantum secara luas dalam daftar fam Ambon dan Maluku, berdampingan dengan fam lokal maupun fam lain berakar Portugal, Belanda, dan Arab.

Dalam masyarakat Ambon, penggunaan marga (fam) erat kaitannya dengan struktur sosial, pembagian tanah, hingga penataan mata rumah atau rumah adat di berbagai negeri.

Marga De Fretes dikenal menghuni wilayah seperti Kilang, Hative Besar, Naku, dan Aboru, meski belakangan muncul perdebatan mengenai posisi adat, terutama di Hative Besar, di mana status marga ini tidak diakui sebagai bagian dari struktur adat lokal.

Dari segi agama dan profesi, sebagian besar keluarga bermarga De Fretes di Maluku menganut agama Kristen Protestan, mengikuti pengaruh penyebaran agama yang dibawa oleh bangsa Portugis dan Belanda.

Tokoh-tokoh terkenal dari marga ini juga kerap muncul dalam bidang seni, budaya, dan pemerintahan, menandakan bahwa De Fretes berperan aktif dalam kehidupan masyarakat Ambon dan Maluku pada umumnya.

Tak sedikit generasi muda bermarga De Fretes kini tampil di bidang pendidikan, musik, kegiatan sosial, hingga menjadi pegiat perdamaian lintas agama di Maluku, mencerminkan daya adaptasi serta kontribusi nyata terhadap kemajuan lokal dan nasional.

Dalam perjalanan waktunya, marga De Fretes telah menjadi simbol identitas dan kebanggaan bagi banyak keturunan Maluku, yang tetap menjaga nilai-nilai tradisional meskipun telah tersebar ke berbagai daerah.

Penelusuran sejarah marga De Fretes menunjukkan bahwa setiap marga memiliki cerita unik yang layak dikenang dan dilestarikan sebagai bagian dari mozaik budaya Indonesia.

Sementara diketahui silsilah secara garis besar Moyang Matheus De Fretes mempunyai keturunan bernama Yacomina De Fretes -> Dorcas De Fretes -> Nicodemus De Fretes -> dst..

(Red/Fikah/Rouses)

Redaksi Mata Lensa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *